• Hipocrates (460-357 SM) merupakan tokoh dalam bidang pengobatan yang mulai mengembangkan pendekatan rasional terhadap penyakit. Konsep inilah yang menjadi dasar pengembangan ilmu kedokteran modern. Tonggak pemisahan bidang farmasi dan kedokteran diawalai oleh Kaisar Frederik II melalui kondifikasi pemisahan praktik farmasi dari praktik kedokteran pada tahun 1240. Ilmu farmasi mencapai puncak kejayaannya pada abad pertengahan ditandai dengan berbagai penemuan para ahli bidang obat dan pengobatan. Sejalan dengan itu, profesi farmasi juga berkembang dengan diterbitkannya Farmakope diikuti berbagai peraturan/ketentuan kefarmasian lainnya serta berdirinya organisasi profesi di berbagai Negara.
  • Sejak dimulainya Pendidikan Tinggi Farmasi di Indonesia (1946) sampai dengan tahun 1959, tujuan pendidikan tinggi farmasi adalah menghasilkan apoteker untuk memenuhi kebutuhan apoteker di apotek. Perlu diketahui bahwa pada saat itu apotek dapat didirikan tanpa penanggung jawabnya seorang apoteker. Apotek tersebut dinamakan “apotek darurat”. Pada tahun 1953 Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 60084/Kab tentang pendidikan apoteker dan doctorandus apoteker yang mulai berlaku sejak tanggal 1 September 1953. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa pendidikan bersifat akademik yang lamanya 4 tahun terdiri atas tingkat propadeuse lamanya 1 tahun, tingkat candidatus lamanya 1 tahun dan tingkat apoteker lamanya 2 tahun. Pemilik ijazah apoteker dapat meneruskan ke tingkat doctorandus selama 2 tahun. Pada tahun 1960 diterbitkan peraturan Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, bahwa pendidikan tinggi farmasi bersifat polivalen dengan lama pendidikan 5 tahun terdiri atas tingkat persiapan (propadeusis), sarjana muda (candidatus), sarjana (doctoral) dan apoteker. Sistem pendidikan tinggi  farmasi terdiri atas sarjana farmasi dan apoteker.
  • Pada periode awal orientasi pendidikan farmasi lebih berfokus pada produk (product oriented). Maraknya era industri farmasi pada masa itu menjadi penyebab pendidikan dan praktik farmasi Indonesia lebih berfokus pada keahlian membuat dan menyiapkan sediaan farmasi yang berkualitas, aman dan efektif, namun nyaris belum menyentuh sisi lain terkait tanggungjawab penjaminan penggunaan obat secara rasional. Titik balik mulai terjadi pada era 1990 dengan munculnya kesadaran pada pentingnya kehadiran profesi farmasi pada tahap pemilihan obat dan penggunaan obat oleh pasien.
  • Arah perkembangan praktik kefarmasian di Indonesia sudah mulai mengikuti perkembangan kefarmasian dunia, yaitu berfokus pada manusia sebagai pengguna obat (patient oriented). Peran apoteker mulai berkembang dari penyedia obat sebagai komoditi menuju pelayanan kefarmasian yang komprehensif (patient care) untuk menjamin terapi obat yang diberikan rasional dan optimal. Pendekatan yang dikenal sebagai “pharmaceutical care” ini mulai diterapkan pada tahun 2004 dalam Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotik dan Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
  • Tahun 2001 Ketua Yayasan Pendidikan Imam Bonjol (YPIB) Majalengka, Bapak H. Satmaja minta saran kepada Ketua ISFI Kabupaten Majalengka Drs. H. Rumli R. Sutawikarta, Apt.  dan berusaha untuk mendapat dukungan dari instansi terkait termasuk DPRD untuk mendirikan STF di Cirebon. Usaha ini berbuah dengan keluarnya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 216/D/O/2001 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Program Studi dan Pendirian Sekolah Tinggi Farmasi (STF) YPIB Cirebon.
  • Dalam rangka peningkatan kualitas dan status, maka pada tahun 2009 dilakukan akreditasi oleh tim dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), hasil Akreditasi C dengan Nomor Akreditasi BAN PT : 002/BAN-PT/AK-XII/S1/IV/2009. Alhamdulillah, pada akreditasi berikutnya  pada tahun 2016 oleh tim dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), diperoleh hasil Akreditasi B, No:0118/SK/BAN-PT/Ak-SURV/S/III/2016
  • Pada November 2018 Sekolah Tinggi Farmasi (STF) YPIB Cirebon memulai Program Studi Pendidikan Apoteker berdasar KEPMENRISTEKDIKTI No.1065/KPT/I/2018